Semangat kemerdekaan terasa di SDIT Al-Furqon Jakarta melalui upacara kemerdekaan 2026. Tahun ini, murid kelas 6 mendapat kesempatan menjadi petugas upacara. Mereka menjalankan setiap tugas dengan tertib, penuh tanggung jawab, dan khidmat.
Kegiatan ini menjadi pengalaman bermakna bagi para peserta didik. Selain memperingati kemerdekaan Indonesia, mereka belajar tentang disiplin, tanggung jawab, kepemimpinan, dan persatuan.
Kelas 6 Menjadi Petugas Upacara Kemerdekaan 2026
Pada upacara kemerdekaan 2026 kali ini, sejumlah murid kelas 6 mendapat kepercayaan sebagai petugas. Setiap murid menjalankan peran masing-masing dalam rangkaian upacara.
Susunan petugas upacara terdiri dari:
- Riffat Fathir Al Barra sebagai Pemimpin Upacara.
- Ashraf Raziq Al Hanan sebagai MC.
- Khairana Athqiyya, Assyifa Rizqiyah Zahfira, dan Hanna Rizqiyah Shakira sebagai pengibar bendera.
- Muhammad Zaher Makarim sebagai pemimpin kelompok paling kanan.
- Muhammad Naufal Ramadhan sebagai pembaca UUD 1945.
- Raffaza Muhammad Furqon sebagai pembawa teks Pancasila.
- Abrisam Fidelyo Ardani sebagai pembawa teks Proklamasi.
- Alkhalifi Dzikri Umar sebagai pembaca doa.
Kesempatan tersebut memberi pengalaman langsung kepada murid dalam menjalankan tanggung jawab. Mereka juga belajar bekerja sama agar seluruh rangkaian upacara berjalan dengan baik.
Upacara Berlangsung Tertib dan Khidmat
Selama kegiatan berlangsung, seluruh peserta mengikuti upacara dengan tertib. Pengibaran bendera menjadi salah satu momen penting dalam kegiatan tersebut.
Suasana semakin khidmat ketika seluruh peserta mengikuti rangkaian upacara bersama. Setelah amanat selesai, peserta kemudian menyanyikan lagu Hari Merdeka dengan semangat.
Kegiatan seperti ini menjadi bagian dari pembelajaran aktif di sekolah. Murid tidak hanya memperoleh pengetahuan melalui pembelajaran di kelas. Mereka juga belajar melalui pengalaman nyata dalam kegiatan sekolah.
Amanat Bu Ani tentang Makna Kemerdekaan
Upacara kemerdekaan 2026 juga menjadi kesempatan untuk kembali memahami makna kemerdekaan. Ibu Andriani, M.Pd., selaku Kepala SDIT Al-Furqon Jakarta, bertindak sebagai pembina upacara.
Dalam amanatnya, Bu Ani mengingatkan bahwa kemerdekaan Indonesia merupakan nikmat besar. Karena itu, kemerdekaan perlu disyukuri dan dijaga bersama.
Bu Ani juga mengajak murid mengingat saudara-saudara di Palestina. Hingga saat ini, mereka masih menghadapi kondisi yang membuat kemerdekaan belum sepenuhnya mereka rasakan.
Pesan tersebut mengajak murid untuk melihat kemerdekaan dengan rasa syukur. Kemerdekaan bukan hanya tentang terbebas dari penjajahan. Kemerdekaan juga membawa tanggung jawab untuk menjaga kehidupan yang damai.
Belajar Persatuan dari Semangat Sumpah Pemuda
Selanjutnya, Bu Ani menghubungkan pesan kemerdekaan dengan semangat Sumpah Pemuda. Para pemuda Indonesia dahulu berasal dari berbagai latar belakang.
Namun, mereka memilih untuk bersatu demi tujuan yang lebih besar. Mereka tidak sibuk membandingkan perbedaan fisik maupun latar belakang masing-masing.
Sebaliknya, mereka berfokus pada tujuan bersama. Semangat persatuan tersebut kemudian menjadi bagian penting dalam perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia.
Pesan ini juga relevan bagi kehidupan murid di sekolah. Perbedaan merupakan bagian dari kehidupan bersama. Karena itu, setiap murid perlu belajar menghargai teman dan menjaga persaudaraan.
Menjaga Kemerdekaan dengan Menolak Bullying
Bu Ani kemudian mengingatkan bahwa menjaga persatuan dapat dimulai dari lingkungan sekolah. Salah satu hal yang dapat merusak persatuan adalah bullying.
Bullying dapat membuat seseorang merasa tidak aman dan tidak dihargai. Selain itu, tindakan tersebut juga dapat menimbulkan keretakan dalam hubungan antarmurid.
Karena itu, murid diajak untuk tidak membeda-bedakan teman. Mereka juga perlu saling menghargai dan menolak segala bentuk bullying.
Nilai tersebut sejalan dengan upaya membangun sekolah ramah anak. Lingkungan sekolah yang aman membantu murid belajar dan berkembang dengan lebih nyaman.
Di sisi lain, kebiasaan saling menghargai juga menjadi bagian dari pendidikan karakter. Murid belajar bahwa persatuan dapat tumbuh melalui tindakan sederhana dalam kehidupan sehari-hari.
Penutup Upacara dengan Penuh Khidmat
Setelah rangkaian amanat dan kegiatan utama selesai, upacara dilanjutkan dengan pembacaan doa. Pada kesempatan tersebut, petugas doa, Alkhalifi Dzikri Umar, qadarullah sedang sakit.
Karena kondisi tersebut, pembacaan doa kemudian digantikan oleh Bapak Kurdi Ridayanto. Meskipun terjadi perubahan petugas, rangkaian upacara tetap berjalan dengan baik.
Seluruh peserta tetap mengikuti kegiatan dengan tertib dan khidmat hingga selesai. Peristiwa sederhana ini juga menunjukkan pentingnya saling membantu dalam menjalankan sebuah kegiatan bersama.
Bagi murid kelas 6, menjadi petugas upacara kemerdekaan 2026 tentu menjadi pengalaman yang berharga. Mereka belajar menjalankan tanggung jawab sekaligus berlatih bekerja sama dengan teman.
Lebih dari itu, kegiatan ini mengajak seluruh murid memahami bahwa kemerdekaan perlu diisi dengan hal-hal positif. Semangat persatuan dapat dimulai dengan saling menghargai, menjaga persaudaraan, dan menolak bullying.
Melalui berbagai kegiatan seperti ini, SDIT Al-Furqon Jakarta terus memberikan ruang bagi murid untuk belajar melalui pengalaman. Sebagai Sekolah Islam Terpadu, pembelajaran tidak hanya berfokus pada akademik. Nilai keislaman, karakter, tanggung jawab, dan kepedulian juga menjadi bagian dari pengalaman belajar murid.
Mari terus menumbuhkan semangat cinta tanah air dan persatuan dalam kehidupan sehari-hari. Kenali lebih dekat berbagai kegiatan pembelajaran dan aktivitas murid di SDIT Al-Furqon Jakarta melalui website sekolah.
Dokumentasi Acara








